Facebook Facebook Facebook Facebook

Kumpulan Puisi Padang Bulan

Bulan di Atas Kota Kecilku yang Ditinggalkan Zaman

Orang asing
Orang asing
Seseorang yang asing
Berdiri di dalam cermin
Tak kupercaya aku pada pandanganku
Begitu banyak cinta telah mengambil dariku
Aku kesepian
Aku kesepian dikeramaian
Mengeluarkanmu dari ingatan
Bak menceraikan angin dari awan
Takut
Takut
Aku sangat takut
Kehilangan seseorang yang tak pernah kumiliki
Gila, gila rasanya
Gila cemburu buta
Yang tersisa hanya kenangan
Saat kau meninggalkanku sendirian
Dibawah rendah yang menyinari kota kecilku yang ditinggalkan zaman
Sejauh yang dapat kukenang
Cinta tak pernah lagi datang
Bulan di atas kota kecilku yang ditinggalkan zaman
Bulan di atas kota kecilku yang ditinggalkan zaman


versi Inggris

Moon Over My Obscure Little Town

Stranger
Stranger
Someone stranger
Standing in a mirror
I can’t belive what I see
How much love has been taken away from me
My heart cries out loud
Everytime I feel lonely in the crowd
Getting you out of my mind
Like separating the wind from the cloud
Afraid
Afraid
I’m so afraid of losing someone I never have
Carazy, oh, crazy
Finding reason for my jealousy
All I can remember
When you left me alone
Under the moon over my obscure little town
As long as I can remember
Love has turned to be as cold as December
The moon over my obscure little town
                                                   The moon over my obscure little town
Ada Komidi Putar di Padang Bulan

Kutunggu ayahku
Akan kurayu agar mengajakku nanti petang
Nanti petang, Kawan, ada komidi putar di Padang Bulan
Ada kereta kuda
Ada selendang berenda-renda
Ada boneka dari India
Komidi berputar pelan
Lampu-lampunya dinyalakan
Komidi melingkar tenang
Hatiku terang
Terang benderang menandingi bulan
Ayah, pulanglah saja sendiri
Tinggalkan aku
Tinggalkan aku di Padang Bulan
Biarkan aku kasmaran



Novel Cinta di Dalam Gelas

Seribu Lima Ratus Perak

Kutengok di televisi
Kebenaran di Jakarta mahal sekali
Para koruptor pintar sembunyi
Padahal nyata-nyata, mereka telah mencuri
Kawan, di kampong kami
Kebenaran harganya hanya seribu lima ratus perak
Warnya hitam, tergenang di dalam gelas, saban pagi
Itulah kopi

Peluk

Disebabkan karena kau terlalu malu
Dengan penuh gengsi kau berbalik, dia pun berlalu
Rasakan itu olehmu, sekarang baru kau tahu
Bahwa semua keindahan di dunia ini berkelabat dengan cepat
Dan hukum-hukum Tuhan ditulis sebelum telepon dibuat
Orang-orang indah yang kautemukan di pasar, stasiun, terminal, dan tikungan
Kekasih, kemewahan mutiara raja brana, kemilau galena dan intan berlian
Semuanya akan meninggalkanmu
Kecuali secangkir kopi
Dia ada di situ, tetap di situ, hangat, dan selalu dapat dipeluk.


Tak Tergenggam

Cinta, ditaburkan dari langit
Pria dan wanita menengadahkan tangan
Berebut-rebut menangkapnya
Banyak yang mendapat segantang
Semakin banyak
Semakin tak tergenggam

Berani

Dalam sembarangan waktu dan ruang
Telah disediakan untukmu
Medan untuk berperang
Beranikah engkau menghunus pedang?

0 komentar:

Posting Komentar

 
Ai Farni Orang SUnda © 2011 Design by Army Boots